Mengapa Anak Jalanan Tidak Mau Sekolah?

Pernahkah Anda bertanya mengapa anak-anak jalanan (maaf) atau sejenisnya tidak mau sekolah? Saya, yang sangat bersyukur hidup di keluarga yang berkecukupan bahkan merasa aneh dan bertanya-tanya mengapa mereka tidak sekolah padahal sekolah itu kan baik, gratis pula. Mungkin karena saya tidak pernah ada di posisi mereka saya tidak bisa  berpikir apa yang mereka pikirkan.

Tapi, akhir-akhir ini saya membaca sebuah buku dan menemukan jawabannya. Jawaban dari permasalahan ini bisa saja dilihat dari berbagai bidang ilmu, tapi kali ini saya melihat dari kacamata para ekonom.

Ilmu ekonomi memandang bahwa segala sesuatu yang dilakukan seseorang itu berdasarkan pertimbangan untung rugi. Sama halnya dengan yang dilakukan oleh anak-anak jalanan itu. Anak-anak itu berpikir kalau saya sekolah maka saya tidak akan mendapatkan penghasilan, dan kalau saya tidak sekolah maka saya tidak akan bisa mendapatkan manisnya ilmu dan pengalaman menempuh pendidikan. Hal inilah yang biasa disebut opportunity cost (biaya kesempatan). Dalam hal ini ada dua kesempatan dan anak-anak itu harus memilih satu kesempatan dan mengorbankan kesempatan yang lain.

Sekarang kita coba asumsikan bahwa pendapatan anak-anak tersebut dalam satu hari minimal Rp20.000. Artinya, ketika anak-anak itu memilih untuk bersekolah, maka mereka mengorbankan pendapatan sebesar Rp20.000. Kalau hari sekolah per minggu adalah enam hari, berarti pendapatan yang dikorbankan sebesar Rp120.000 (20.000 x 6). Dalam sebulan pendapatan yang dikorbankan sebesar Rp480.000. Dengan asumsi tamat sekolah dasar saja (tanpa tinggal kelas), pendapatan yang dikorbankan selama 6 tahun (72 bulan) itu sebesar Rp34.560.000 (480.000 x 72). Besar bukan pendapatan yang dikorbankan?

Selain pendapatan yang dikorbankan sangat besar, prospek penghasilan bagi anak-anak jalanan yang mengandalkan ijazah SD saja terlalu kecil jika dibandingkan dengan penghasilan yang harus dikorbankan untuk mendapatkan ijazah itu sendiri.

Oke, mungkin anak-anak tidak akan sampai berpikir sejauh itu, apalagi membahas opportunity cost. Tapi, seperti yang sudah saya katakan di awal bahwa ini berdasarkan pandangan ilmu ekonomi. Meskipun begitu, saya rasa kurang lebih seperti itulah yang ada di pikiran anak-anak itu.

Leave a Comment