mencontek

Benarkah Menyontek Sepenuhnya Buruk?

Mudah dalam menghafal, selalu ingat yang dihafalkan, cepat dan tepat menghitung tanpa alat, menguasai berbagai macam bidang ilmu, itu merupakan suatu keistimewaan yang tak semua orang memilikinya. Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki keistimewaan itu? Ya tentu saja menyontek. Kebanyakan orang kan menganggap menyontek itu perbuatan yang tidak baik, benarkah seperti itu?

Inilah menurut pemikiran saya

Manusia tidak harus menguasai segala hal, terkadang menguasai satu bidang saja sudah sulit, apalagi banyak. Menurut apa yang saya rasakan, pendidikan itu menuntut para siswa untuk bisa menguasai berbagai hal yang pada akhirnya membuat beberapa siswa kewalahan. Ketika ujian datang, mereka belum paham bahkan lupa akan apa yang sudah dipelajarinya. Pada akhirnya, menyontek menjadi salah satu jalan yang biasa ditempuh.

Apakah Anda pernah ditanya oleh guru/ dosen atau pernah menemukan soal ujian mengenai suatu hal, tapi Anda tidak bisa menjawab/ mengungkapkannya padahal Anda tahu jawabannya? Sebagai contoh, guru/ dosen Anda bertanya “Apa pengertian dari demokrasi?”, sebenarnya Anda mengerti dan paham mengenai demokrasi, demokrasi itu yang gini nih, demokrasi itu yang gitu tuh, tapi Anda tidak bisa mengungkapkan jawaban itu. Lalu apa yang bisa kita lakukan agar kita bisa mengungkapkannya dengan kata-kata yang benar? Tentu dengan membaca buku, membaca dari internet, dan itulah menyontek. Dari persoalan itu, mari kita berpikir, lebih baik kita memahami apa itu demokrasi atau lebih baik kita tahu dan hafal pengertian dari demokrasi saja tapi tidak memahaminya? Menurut saya, yang baik adalah kita memahami demokrasi itu, tidak penting kalau  kita harus mengetahui “pengertian” dari demokrasi itu.

Contoh lain, soal ujian bertuliskan “Sebutkan bunyi dari hukum gossen I!”, menurut saya, kita tidak perlu hafal bunyi dari hukum gossen I, karena yang lebih penting adalah kita “memahami” apa itu hukum gossen I. Lalu bagaimana kalau ada yang bertanya atau ada soal ujian seperti tadi yang menanyakan mengenai pengertian demokrasi atau mengenai bunyi hukum gossen I, kita kan tidak menghafal semua itu? Ya, memang kita tidak hafal semua itu dan kita tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tapi kalau mau tahu jawabannya, kita hanya perlu buka buku atau internet dan wallaaa jawaban yang kita cari ada di sana. Mudah bukan? Saya juga ingin bertanya, emang di kehidupan bermasyarakat biasa, ada gitu yang nanya apa itu pengertian demokrasi, apa itu pengertian takwa, apa saja jenis-jenis simbiosis, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya? Mungkin ada, tapi jarang ada yang bertanya seperti itu. Sekalipun ada yang nanya, zaman sekarang pasti langsung nanya ke gugel.

Saya pernah baca sebuah buku terjemahan yang berjudul “Berpikir dan Berjiwa Besar” karya David J. Schwartz dimana dalam buku tersebut saya membaca kisah pendek bahwa ilmuwan besar Einstein pernah ditanya ada berapa kaki (sekitar 30 cm) dalam satu mil. Anda tahu Einstein menjawab apa? Einstein menjawab, “Saya tidak tahu. Mengapa saya harus mengisi otak saya dengan fakta yang dapat saya temukan dalam waktu dua menit di dalam buku acuan yang standar?”. Dari kisah ini, Einstein mengajarkan kepada kita bahwa otak kita sebaiknya digunakan untuk berpikir daripada digunakan sebagai gudang fakta, karena kemampuan untuk mengetahui “cara” mendapatkan informasi/ pengetahuan lebih penting daripada menggunakan pikiran sebagai gudang fakta. Dan saya selalu bertanya-tanya, mengapa saya harus menghafalkan segala hal, mengapa ada soal-soal ujian yang menanyakan suatu hal, padahal jawaban dari  semua itu sudah ada dalam buku dan bahkan internet.

Menurut saya, soal-soal ujian perlu diubah dari yang asalnya menanyakan “Apa pengertian dari demokrasi?” menjadi “Bagaimana penerapan demokrasi di Indonesia pada saat sekarang?”. Artinya, soal-soal ujian itu seharusnya soal yang dapat melatih pemikiran para siswa, contoh soal “Bagaimana penerapan demokrasi di Indonesia pada saat sekarang?”. Untuk menjawab pertanyaan itu, maka para siswa perlu berpikir dan melakukan analisis menurut pemahamannya sendiri, seperti mencocokkannya dengan prinsip dan ciri-ciri demokrasi. Apakah demokrasi zaman sekarang sudah sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi? Apakah demokrasi zaman sekarang sesuai dengan ciri-ciri demokrasi? Dengan pertanyaan seperti itu, maka akan membuat siswa berpikir untuk memecahkan suatu masalah.

Contoh lain, saya pernah menemukan soal ujian untuk ‘menganalisis perkara penggabungan usaha, apakah itu termasuk akuisisi, konsolidasi, atau merger?’. Jujur, saya lebih suka soal-soal yang seperti ini, karena dengan soal yang seperti ini dapat lebih menambah pengetahuan dan dapat memberikan pemahaman kepada saya mengenai penerapan ilmu yang saya pelajari, daripada saya harus menjawab pertanyaan “Apa pengertian dari merger, akuisisi, dan konsolidasi?” yang padahal jawabannya sudah ada di buku/ internet. Untuk menjawab pertanyaan itu, terlebih dahulu saya harus tahu kasus perusahaan mana yang digabungkan itu, lalu saya harus tahu apa itu merger, akuisisi dan konsolidasi. Pada saat itu, saya tidak tahu apa itu merger, akuisisi, dan konsolidasi, dan yang saya lakukan adalah menyontek, saya mencari tahu di internet mengenai apa itu merger, akuisisi, dan konsolidasi. Setelah saya tahu mengenai semua itu, saya langsung menganalisisnya dalam perkara yang ditanyakan. Satu hal yang ingin saya tekankan, saya mencari tahu mengenai apa itu merger, akuisisi, dan konsolidasi, bukan langsung mencari atau mengetik di kolom pencarian “analisis kasus penggabungan usaha ‘bank-bank syariah’ (misalnya) di Indonesia”. Inilah yang ingin saya sampaikan, menurut saya, menyontek untuk ‘memecahkan masalah’ itu boleh, tapi jangan sampai kita menyontek langsung pemecahan masalah menurut pandangan orang lain, karena pemecahan masalah orang lain bisa jadi berbeda dan bahkan tidak cocok dengan masalah kita. Kemampuan untuk mengetahui cara mendapatkan informasi/ pengetahuan lebih penting daripada menggunakan pikiran sebagai gudang fakta. Dan saya ingin menyampaikan bahwa menyontek itu dapat memberikan pengetahuan, saya yang asalnya tidak tahu mengenai bentuk-bentuk penggabungan usaha dan pengertiannya, dengan menyontek, sekarang saya menjadi tahu.

Hal ini juga berlaku untuk pelajaran hitungan, setiap materi memiliki rumusnya masing-masing, rumus-rumus itu banyak, banyak orang yang sulit menghafalkan rumus-rumus itu. Seharusnya untuk memecahkan soal-soal perhitungan itu, kita boleh melihat rumus di buku atau di internet, kita boleh menyontek, itu bukan merupakan suatu hal yang salah. Menyontek yang salah adalah kita langsung mengetikkan soalnya di kolom pencarian untuk mendapat jawaban instan. 

Sebagai tambahan, manusia menciptakan teknologi itu untuk mempermudah kehidupan manusia itu sendiri. Kalau ada sesuatu yang dapat memudahkan kita, mengapa kita tidak menggunakannya? Terkadang saya merasa aneh, mengapa di dunia pendidikan, sebagian ada yang melarang penggunaan teknologi, seperti kalkulator, internet, dan komputer, padahal yang saya lihat di dunia kerja, mereka menggunakan teknologi-teknologi itu. Mengapa kita harus repot-repot menyusun laporan keuangan dengan cara ditulis padahal ada komputer dan program-programnya? Mengapa kita harus menghitung dengan susah payah padahal ada kalkulator? Ohhh, ini kan agar membuat siswa/ mahasiswa mengerti konsep-konsepnya. Hahhh?

Leave a Comment